"Tak Seorang pun Dapat Memprediksi Seberapa Besar Sukses yang Akan Kita Capai, bahkan Kita Sendiri pun Tak Akan Pernah Tahu, Jika Kita Tak Pernah Memulai..."

25 Oktober 2014

Kisah Nabi Sembuhkan Kebutaan Lewat Mimpi

Dirinya sungguh tak menyangka bakal sembuh dengan cara istimewa. Semula orang laki-laki ini sehari-hari diliputi gelap karena kondisi matanya yang sama sekali tak dapat melihat. Dalam kebutaan tersebut, hanya satu dalam dirinya yang menyala sangat terang: semangat untuk sembahyang berjamaah.

Kitab Kifayatul Atqiya’ wa Minhajul Ashfiya’ mengisahkan, laki-laki buta itu biasa berjalan menuju masjid tanpa dipandu tongkat selayaknya penyandang tunanetra pada umumnya. Jatuh cintanya yang amat pada shalat jamaah telah meruntuhkan rasa khawatir akan celaka akibat sikap pasrahnya itu.

Namun musibah tak bisa ditolak. Suatu hari laki-laki tersebut terjatuh di jalan hingga kepalanya terluka. Perjalanan menuju masjid gagal. Ia harus dibawa kembali ke rumah untuk istirahat.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Di rumah, laki-laki buta yang kini batok kepalanya terluka itu malah mendapatkan “semprot” dari istrinya.

“Beginilah akibatnya. Padahal, shalat jamaah itu tidak wajib!” sergah istrinya.

“Meski telah mengambil cahaya bola mataku, tapi Allah tetap memelihara cahaya hatiku. Aku sanggup tidak absen dari shalat jamaah,” jawabnya.

Malam harinya, tidur si lelaki buta terasa spesial. Rasulullah SAW menjumpainya dalam mimpi. “Kenapa kau bertengkar dengan istrimu?” tanya Nabi.

“Karena mengikuti sunnahmu, ya Rasulullah.”

Rasulullah lantas mengusapkan tangannya di atas mata laki-laki itu. Seketika penglihatan si buta pulih. Berkah tangan mulia Nabi dan sunnahnya memancarkan keajaiban bagi cahaya matanya yang tertutup sekian lama. (Mahbib)

Sumber: nu.or.id

21 September 2014

di Suatu Siang di Jagakarsa

Lelaki itu berjalan pelan. Di sekitar pundaknya terlihat kerupuk-kerupuk dagangan yg digantungkan di sebatang kayu. Tangan satunya memegang tongkat, ya, tongkat yg memandunya utk berjalan. Benar, laki-laki berusia sekitar 40-an tahun itu seorang tuna netra. Dia hanya berjalan, diam, tidak seperti pedagang2 lain yg meneriakkan produk yg dijajakannya. Dia juga hanya sendiri, tak ada teman yg menemani. Tak tahu apakah jalan yg dilewatinya sepi atau ramai, bahkan tak tahu apakah ada orang yg melihatnya dan membutuhkan krupuk. Jika tanpa keyakinan yg benar dan kuat tentang rejeki, pasti logikanya telah melumpuhkan semangatnya untuk berusaha. Matanya memang tak dapat melihat, tapi hatinya terang benderang oleh cahaya keimanan.
"Di Tengah-Tengah 'Samudera Kesulitan' Selalu Ada Sebuah Pulau Yang Bernama 'Peluang Emas'..."