"Tak Seorang pun Dapat Memprediksi Seberapa Besar Sukses yang Akan Kita Capai, bahkan Kita Sendiri pun Tak Akan Pernah Tahu, Jika Kita Tak Pernah Memulai..."

20 Februari 2012

Asap Tembakau juga "Ayat" Tuhan

Pagi ini saya membaca tulisan di Koran Sindo yang bagi saya cukup mencerahkan, mengenai asap tembakau yg ternyata bermanfaat bagi makhluk hidup lain.
Tulisan ini ditulis oleh Pak Ahmad Sobary. Silakan menyimak dan semoga bermanfaat....

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saya tiba di Desa Sukorejo, Weleri,Kendal, Jawa Tengah, siang hari. Saat masih ada di Kota Semarang tadi, udara terasa panas,tapi di Sukorejo sejuk dan malamnya dingin minta ampun.


Desa itu terletak di lereng Gunung Perahu yang memproduksi tembakau dan sayur-sayuran,jagung dan buahbuah jambu, yang kelihatan agak istimewa. Ada juga kebun kakao di sana sini, di ladang-ladang yang udaranya dingin itu.Semuanya milik petani setempat. Kakao mereka rusak dimakan hama yang menggagalkan panenan yang didambakan petani. Kerusakan terjadi pada buah. Buah muda sakit dan busuk. Buah setengah tua sakit dan membusuk. Begitu buah yang sudah tua, yang merah warnanya.

Ketika busuk, tampak warga agak gelap, lalu mengering, dan tak berguna buat apa pun. Ibu Gretha, dengan dua asistennya, membantu petani memerangi hama itu. Dua asisten menyiapkan tembakau untuk dibakar dengan cara khusus dan asapnya disemprotkan pada pohon-pohon kakao yang sakit tadi. Itulah pengobatan dengan menggunakan asap tembakau, yang dikerjakan dengan cekatan. Mas Sidiq dan Mas Aziz,dua asisten andalan Bu Gretha,”memetakan” lokasi untuk menentukan dari sudut mana permulaan pengasapan dimulai.

Mereka berkonsultasi dengan Bu Gretha dari dulu tentang pengobatan tanaman itu. Beberapa petani setempat sibuk membantu menempatkan dan kemudian memindahmindah alat pembakaran tembakau dari satu tempat ke tempat lain di kebun tersebut. Petani, pemilik kebun itu, pernah menceritakan kerusakan tanaman kakaonya kepada Bu Gretha yang dengan ringan hati menolongnya. Pak Taufik, kepala desa,juga hadir di lokasi. Sebelumnya sudah dijelaskan kepada para petani bahwa asap tembakau mampu mengusir jenis-jenis tanaman yang merusak ladang mereka.

Selebihnya, asap tembakau mempersubur tanah. Di Kalimantan Tengah Bu Gretha sudah melakukan suatu “uji coba”.Tanah gambut yang kering dan gersang— yang tak bisa diharap banyak— berkat sentuhan pengasapan tembakau, tanah berubah menjadi subur. Ada tanaman singkong, kacang tanah, tembakau, dan sayur-sayuran yang bagus sekali perkembangannya. Ibu Gretha mengatakan bahwa produksi pertanian bisa meningkat tiga kali lipat dari biasanya sesudah tanah diasapi dengan asap tembakau tadi. Malam sebelumnya petani setempat datang ke klinik Bu Gretha dan mereka berdialog tentang tanaman.



Bagi orang yang kritis dan sangat sensitif, akan segera terasa bahwa mungkin Bu Gretha sedang mengiklankan produknya. Tapi bukan itu faktanya. Saya bisa memastikan—mungkin lebih bagus “menjamin”— demi kebenaran bahwa dia tidak sedang pasang iklan. Dia tak punya produk siap pakai yang tiap saat tersedia.Produknya tidak untuk dijual.Sampai saat ini apa yang dilakukannya ialah meyakinkan orang banyak, di sana-sini, dengan memberikan bukti nyata bahwa tanaman yang diasapi tembakau dan yang tidak sangat beda dilihat dari segi kesuburan dan kesehatan maupun produknya.

Sesudah diasapi, tanaman menjadi jauh lebih subur, lebih sehat, dan produksinya lebih banyak.Pendek kata, tanaman yang diasapi itu lebih sehat karena asap tadi membunuh hama yang merusaknya. Selebihnya,sekali lagi,tanah menjadi lebih subur dan asap tembakau yang dibakar itu, di udara,tak meninggalkan setitik pun kotoran. Tak ada dan tak bakal ada polusi udara yang diakibatkan oleh pengasapan tembakau tadi. Tanaman sangat membutuhkan asap tersebut. Tanaman yang parah sekali sakitnya membutuhkan obat—pengasapan tadi—lebih banyak dibandingkan tanaman yang sakitnya relatif lebih ringan,lebih terbatas.

Saya sangat awam di bidang pengobatan tanaman meskipun saya memiliki keterampilan alami bercocok tanam dan mengurus tanaman. Apa yang saya tanam selalu subur dan buahnya memuaskan. Tapi mengobati tanaman, boleh dibilang, saya orang “buta huruf”. Maka di tengah kesibukan petani, Bu Gretha, dan asisten-asistennya tadi, saya berusaha selalu dekat, mengamati secara cermat, dan bertanya. Bu Gretha menjelaskan perputaran asap dan mekanisme alami penyembuhan tanaman kakao yang sakit tadi.

Asap itu memiliki partikel-partikel yang kecil dan karena kecilnya, dia bisa menembus suatu objek dengan cepat sekali.Partikel pada penyakit yang parah memiliki sifat “menerima” kedatangan asap tadi. Elektromagnetiknya besar.Tapi karena sakit,partikel itu terasa padat dan seolah menolak asap tadi. Maka, kata Bu Gretha, asap berembus dulu ke arah lain, ke bagian-bagian tanaman yang penyakitnya lebih sedikit. Proses penyembuhan bermula di situ.Tapi tak lama kemudian, asap pun beralih ke tempat di mana terdapat penyakit yang tanamannya lebih banyak.

Pelan-pelan, partikel-partikel asap itu terserap oleh bagian yang partikelnya padat tadi dan asap pun kemudian berputar lagi ke tempat lain. Saat itu,tanaman yang sakitnya sedikit dan yang sakitnya banyak sudah hampir sama saja. Keduanya sudah mampu menyerap asap dengan baik dan pelan-pelan penyembuhan terjadi. Tanaman akan sembuh total dan buahnya akan sehat. Asap tembakau bukan hanya untuk menyehatkan tanaman.

Penyembuhan tanaman ditempuh Bu Gretha baru beberapa saat akhir-akhir ini. Sebelumnya, berpuluh tahun lalu,dia sudahgigih menyembuhkan orangorang sakit kanker, yang tak mampu membayar biaya rumah sakit yang mahal, atau membantu para penderita kanker yang sudah sangat parah, yang para dokter tak mampu menanganinya. Di tangan Bu Gretha, pasien yang divonis dokter hanya akan mampu bertahan hidup selama enam bulan ternyata sembuh total dan segar bugar. Penyembuhan dengan asap tembakau ini membuat saya merasa perlu mencatat.

Agaknya atau “mungkin”atau “rupanya”, bisa juga “ternyata”,ilmuilmu Allah dalam bidang kesehatan belum seluruhnya dilimpahkan kepada dunia kesehatan modern. Allah hanya membukakan sedikit rahasia ilmu-Nya kepada mereka. Selebihnya diberikan pada kemampuan “tradisional”, yang jauh lebih tua. Orang Indian di Amerika sejak berabad-abad lalu menggunakan tembakau sebagai obat. Kita, di kampung, menggunakan tembakau untuk berbagai jenis obat pula. Tembakau bukan racun terkutuk. Tuhan menciptakannya untuk sesuatu yang mulia bagi kemanusiaan.

Maka ada baiknya para dokter bersikap rendah hati di hadapan Allah untuk memahami bahwa bukti empirik mengenai tembakau sebagai obat itu ternyata juga sebuah “ayat”yang layak dibaca dengan hati. Syukur dengan sedikit hati-hati.

M SOBARY
Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan. Email: dandanggula@hotmail.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/470746/

12 Januari 2012

REFLEKSI KELAS DUNIA

Oleh: Rhenald Kasali di harian Seputar Indonesia
Menurut PBB, tahun ini adalah tahun koperasi. Bangsa-bangsa besar,tak ketinggalan Thailand dan Malaysia, berlomba-lomba menunjukkan kepada dunia, mereka pun memiliki koperasi kelas dunia.Bagaimana Indonesia?

Bukankah kita lagi asyik dengan UMKM nonkoperasi? Untuk menjadi pegangan para pelaku koperasi, International Cooperative Alliance (ICA) mengeluarkan peta yang berisi daftar 300 koperasi kelas dunia. Di dalam daftar itu terdapat koperasi-koperasi besar seperti Credit Agricole Group (Prancis), Zen Noh (Jepang), Rabo Bank (Belanda), California Dairies (Amerika Serikat/ AS), IFFO (India), Fair Price (Singapura), dan Bank Rakyat (Malaysia). Semula saya berharap akan ada beberapa koperasi Indonesia yang masuk dalam daftar itu,tetapi saya harus kecewa menerima kenyataan tidak ada.

Padahal, kurang apa ya negeri ini? Penduduk prasejahtera masih banyak, kementerian yang menangani khusus koperasi juga ada,APBN-nya pun disediakan. Tidak ada badan hukum usaha lain yang diajarkan di sekolah sejak SD selain koperasi.Koperasi juga dijadikan praktik di sekolah-sekolah. Indonesia juga tidak kurang mengenal tokoh-tokoh koperasi, termasuk pendiri negeri ini Bung Hatta. Sementara di Inggris, Belanda, dan AS yang sangat kapitalis, koperasi justru berjaya.Ada apa gerangan?

Ideal dan Komersial

Di Harvard, bila Anda sempat, mampirlah ke toko buku dan suvenir kampus. Anda akan menemukan sebuah toko besar yang dikelola secara profesional. Mahasiswa dan pengunjung menyebutnya COOP yang artinya koperasi.Adalah hal yang biasa bila orang menyebut coop-number yang berarti nomor keanggotaan dalam koperasi. Mereka adalah pemegang saham sekaligus pelanggan, mengeluarkan uang dan mendapat dividen.

Di Inggris,gerakan koperasi juga tak kalah hebatnya.Adalah biasa orang menyebut vivid number yang berarti nomor keanggotaan koperasi. Salah satu kelompok usaha berbasis koperasi yang besar adalah The Co-Operative Group yang bergerak dalam spektrum usaha yang sangat luas dengan 3 juta anggota dan 4.500 gerai. Mereka bergerak dalam bidang ritel, makanan, asuransi, perbankan, travel, farmasi, jasa pemakaman, jasa hukum, investasi, toko online, listrik, dan hotel. Di Indonesia kita mengenal Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) yang masih memiliki gedung bertingkat di jalan bergengsi di Jakarta, tetapi kiprahnya sudah lama tak terdengar.

Demikian pula Puskowan Jati yang sangat populer di Jawa Timur, Koperasi Unit Desa Setia Kawan di Nangkojajar, koperasi-koperasi susu, Inkopad, Inkopal dan Inkopol serta Inkopau. Tapi semakin hari koperasi di sini mulai jarang disebut.Apalagi, dukungan pemerintah pada sektor pertanian menyusut, lahanlahan pertanian menyempit, dan usaha yang sarat subsidi (seperti pupuk) berpindah ke tangan para makelar dan orang-orang partai politik. Mudah-mudahan saya salah dan saya berharap koperasikoperasi kita gegap gempita seperti di era Orde Baru.

Namun,di sisi lain,saya mendengar ada secercah harapan, yaitu berkembangnya koperasikoperasi simpan pinjam (KSP) yang banyak menggarap sektor microfinance. KSP-KSP ini bisnisnya berkembang karena dikelola secara profesional dengan manajemen mirip perbankan. Hanya saja tak semua sektor microfinancedikuasai koperasi. KSP harus bekerja lebih keras lagi karena mereka harus berhadapan dengan bank-bank besar, bank-bank asing, lembaga- lembaga keuangan mikro, BPR,dan tentu saja KSP asing dari Bangladesh, India, dan Eropa.

Refleksi Kelas Dunia

ICA menyebutkan di seluruh dunia, usaha koperasi menyangkut kepentingan lebih dari 1 miliar penduduk dunia yang terlibat baik sebagai anggota, konsumen maupun pengurus dan pegawai. Dari global 300 koperasi dunia saja, penghasilan yang diciptakan telah mencapai USD1,6 triliun,yang berarti setara dengan produk domestik bruto (PDB) salah satu negara nomor 9 terbesar di dunia. Ke-300 koperasi kelas dunia itu ada di 25 negara dengan penghasilan terbesar,yaitu ada di Prancis (28%), AS (16%), Jerman (14%), Jepang (8%), Belanda (7%), Inggris (4%), Swiss(3,5%), Italia (2,5%) Finlandia (2,6%),Korea (2%) dan Kanada (1,75%).

Kalau di negara-negara kapitalisme itu saja koperasi bisa menjadi besar, mengapa di Indonesia tidak? Apakah mungkin karena koperasi telah salah dibina birokrat-birokrat yang tak paham bisnis sehingga terlalu kental aturan dan masalah ideal saja? Atau jangan-jangan cara pengelolaannya yang masih–– maaf–– primitif, berpikir kecil,merasa miskin dan kurang berani merekrut kaum profesional? Atau bisa juga bidangbidang usaha yang ditekuni sangat terbatas pada bidangbidang usaha bernilai tambah rendah sehingga masih bermimpi mengandalkan tangan pemerintah? Semua mungkin saja.

Tapi marilah kita berefleksi dengan melihat apa yang dilakukan oleh koperasi-koperasi kelas dunia. Pada dasarnya, kata kelas dunia itu sendiri adalah kata yang rancu dan sangat mudah dipakai sekadar untuk “kerenkerenan” saja. Padahal, kata kelas dunia mencerminkan sesuatu yang “besar”. Kata “besar” itu sendiri bisa berwujud luas,mulai dari aset,pasar,pendapatan, jumlah pegawai hingga jangkauan usaha dan seterusnya. Namun belakangan saya melihat kecenderungan kata “besar” dalam status kelas dunia mulai ditinggalkan karena banyak usaha-usaha yang besar menimbulkan masalah.

“Besar” dari ukuran-ukuran tadi ternyata identik dengan kerakusan, skandal, arogansi, tidak bersahabat (dengan pelanggan dan society), dan bahkan “besar” identik dengan kesejahteraan semu (illusionary wealth). Setiap kali terjadi krisis, lembaga-lembaga usaha yang “besar” selalu menjadi beban bagi suatu bangsa karena tidak fleksibel, terlalu hierarkis, terlalu I-Centric,banyak utang,terlibat masalah-masalah etika dan salah urus.Padahal “besar” juga berarti magnet, yang menarik orang-orang terbaik, lulusan universitas-universitas terkemuka dan seterusnya.

Oleh karena itulah pengertian kelas dunia mulai bergeser. Ia bukanlah urusan besar dan peringkat prestasi keuangan melulu.Para ahli melihat, kata “respect”,“admire” (dihormati, dikagumi) menjadi lebih bermakna dan lebih diterima.Jadi, ukurannya bukan lagi sekadar value (nilai, angka), melainkan juga values (bernilai, bermakna, kearifan). Value adalah sasaran dari kapitalisme, sedangkan gabungan value dan values adalah miliknya koperasi. Koperasi kelas desa biasanya terpukau dengan “values” belaka sehingga jalan di tempat, sedangkan koperasi kelas dunia menyeimbangkan keduanya.

Bahkan dengan bekal values–nya itu, mereka berjuang keras menjadi role model dalam industri masing-masing seperti menjalani prinsip-prinsip crackership dalam konsep Cracking Zone. Saya masih punya rekaman kuat saat tinggal beberapa minggu di sebuah desa di kaki Gunung Bromo lebih dari 20 tahun lalu. Di sana saya berdialog dengan para peternak susu dan pengurus Koperasi Susu Setia Kawan.Sebuah desa yang hidup, ceria, dan penduduknya sejahtera karena koperasi.

Pengurus-pengurus koperasi aktif mencari formula- formula baru dalam berbagai hal.Mereka mencari cara agar sapi-sapi mereka sehat dan produktif, mengembangkan teknologi, pakan ternak, dan alat transportasi susu yang terbebas dari kerusakan kualitas dan seterusnya. Tapi di sisi lain,mereka juga aktif membangun masyarakat, merekatkan nilai-nilai, mengubah perilaku-perilaku buruk warisan Ken Arok dan Kebo Ijo (dalam sejarah Singosari), membuat para peternak nakal lebih jujur dan tak mencampur susu dengan air atau santan, menciptakan kegembiraan di antara penduduk saat menyetor susu, serta membentuk cara-cara pengelolaan uang yang sehat.

Rakyatnya sehat dan sejahtera, koperasi juga sehat dan sejahtera.Tapi untuk menjadi role model, tuntutannya tentu lebih besar lagi.Koperasi tak boleh berpuas diri menjadi pemain- pemain kelas desa,sebab seperti KSP-KSP, mereka juga berhadapan dengan sistem ekonomi liberal yang memaksa mereka unggul dalam bersaing. Koperasi harus kompetitif dan dikelola dengan mengikuti zamannya.

Koperasi harus menjadi matahari dengan magnet yang kuat untuk menarik the best talent, the best produk,dan the best system . Selamat merayakan Tahun Internasional Koperasi dan jadilah warga dunia berkelas yang dihormati.
"Di Tengah-Tengah 'Samudera Kesulitan' Selalu Ada Sebuah Pulau Yang Bernama 'Peluang Emas'..."